Langsung ke konten utama

Tersapu Hujan


                Diterjang dengan banyaknya problem yang ada, ternyata membuat nyali diri ini semakin ciut. Mungkin suatu saat nanti, nyali sudah terlalu lelah menghadapi semuanya. Tetapi, di dunia ini yang juga bukan milik sendiri harus berusaha mati-matian untuk tidak menjadi gila. Seseorang akan ada di jalannya masing-masing, tetapi mengapa jalan orang lebih mudah untuk dilalui? Apa diri ini kurang bersyukur? Apa diri ini kurang untuk merapalkan doa? dan Apakah diri ini sudah cukup lelah menapaki jalan panjang yang masih jauh sekali tujuan pastinya?. Mungkin diri ini terlalu melihat orang lain yang hidupnya terlalu ringan untuk dilihat. Klise memang, tetapi terkadang saya ingin menjadi seperti orang lain yang jalannya bagus untuk dilalui. 
          Apakah dengan menjadi orang lain menandakan diri ini memang menyerah? Apa dengan kehilangan diri sendiri membut diri ini masih menjadi normal?. Pertanyaan yang selalu muncul di kepala namun tidak pernah menemukan jawaban pasti karena sang jiwa dan raga sedang berseteru satu sama lain. Beberapa argumen yang ada di dalam hati dan otak sangat berlawanan membuat kepala terasa ingin meledak. Entah dengan tujuan apa, terkadang diri ini ingin selalu terlihat bahagia di depan orang lain. Padahal sebenarnya perasaan ini remuk, ah bukan hancur berkeping-keping. Diri ini kira kepingan itu akan menyatu kembali menjadi suatu kesatuan yang utuh, tetapi meskipun menjadi satu masih terlihat garis-garis pechan kepingan itu. Ralat, dirasakan. 
                Kata orang rasa sakit, luka, dan apapun namanya akan sembuh pada waktunya. Tetapi mereka tidak bisa memberikan jawaban pasti kapan waktu itu akan datang. Apa mereka berkata seperti itu hanya untuk menjadi obat sementara atau hanya sebuah harapan palsu?. Terkadang, diri ini menangis di tengah hujan agar tidak seorang pun tahu jika diri ini sedang menangis. Diri ini membiarkan air mata tersapu oleh air hujan, karena tetesan air hujan yang mengenai wajah akan memudarkan air mata yang jatuh ke pipi. 
                  

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Patah

Kini semesta benar-benar ingin membuatku berhenti untuk tak lagi menuliskanmu pada lembar baru, meskipun dengan tinta pudar sekalipun. Sedikit sulit bagiku, karena sudah lama namamu mendiami hati yang sulit dijangkau oleh siapapun. Bahkan diriku sendiri. Sudah banyak cara kucoba untuk sedikit menghilangkan namamu disana, tetapi tak ada yang berubah. Seakan namamu memang sudah sepatutnya disana dan tidak akan pergi kemanapun. Beberapa orang mengataiku bodoh bahkan terlampau gila karena mencintai orang sepertimu yang sudah membuat luka sebegitu dalamnya.  Mereka memintaku untuk melupakan sekaligus menghilangkan bayang dirimu dari segala memori dan kenangan yang ada di otak, tapi mereka tidak memberitahu bagaimana usaha untuk melakukan itu semua. Mereka hanya menyuruh namun tidak memberi cara padaku. Lantas, aku harus apa? menunggu? bukankah itu sudah kulakukan selama enam tahun itu. Ah, enam tahun, rasanya baru kemarin tetapi waktu sudah berjalan cepat seakan tidak memberi sekat bagi...

Seandainya

Ketika malam menyambut dan aku kembali merenung, disitulah jiwa kembali ke tempat yang seharusnya tidak pernah aku genggam selama ini. Perasaan bagaimana aku melewati itu semua masih sangat terasa bahkan ingin rasanya memutar kembali waktu. Bukan untuk mengubah segalanya, melainkan melihat dari kejauhan bagaimana melihat diriku sendiri kala itu. Tapi, aku tahu kalau memutar balik waktu hanya bisa dalam imajinasi saja, tidak ada aksi yang bisa merealisasikan itu semua. Kalaupun ada, manusia tidak akan pernah bisa maju bukan?. Ketika dunia memiliki kapsul waktu untuk tujuan apapun itu, aku rasa Tuhan tidak akan membiarkannya. Karena, Tuhan tahu apa yang terbaik bagi makhluknya dan juga tahu bagaimana kita sebagai manusia harus menjalani apa yang ada di depan mata. Menjadikan yang lalu sebagai pelajaran, dan menjadikan masa depan sebagai arang untuk memacu semangat di hari sekarang.  Tetapi, kalau boleh aku berdoa, ingin rasanya melihat diri ini beberapa tahun yang lalu. Agar aku bisa...

Lelah

              Diri ini hanya butuh untuk didengarkan, diri ini tidak butuh sebauh sumpah serapah yang keluar dari mulut orang lain. Diri ini juga tidak bisa menerima sebuah kalimat penghakiman, karena masalah dari dalam diri ini terlalu sepele bagimu. Mudah bagimu untuk berkata seperti itu, tapi sulit bagi diri ini untuk tidak menelannya mentah-mentah dan menghinggapi ruang paling dalam di hatinya. Mengusik kembali api yang ada di hidupnya. Bukannya lebih mudah untuk memberi diri ini waktu, dan dirimu hanya cukup menutup mulut.               Kalau suatu hari nanti diri ini yang sesungguhnya benar-benar menghilang, dirimu yang patut disalahkan. Karena dengan dirimu membuka mulut, semua api dalam diri ini semakin besar hingga jiwa pun tak mampu memadamkannya lagi. Diri ini bisa saja untuk berterus terang, tetapi terlalu melelahkan untuk melakukan itu semua dan melelahkan juga menerima kalimat itu bulat-bu...