Langsung ke konten utama

Seandainya


Ketika malam menyambut dan aku kembali merenung, disitulah jiwa kembali ke tempat yang seharusnya tidak pernah aku genggam selama ini. Perasaan bagaimana aku melewati itu semua masih sangat terasa bahkan ingin rasanya memutar kembali waktu. Bukan untuk mengubah segalanya, melainkan melihat dari kejauhan bagaimana melihat diriku sendiri kala itu. Tapi, aku tahu kalau memutar balik waktu hanya bisa dalam imajinasi saja, tidak ada aksi yang bisa merealisasikan itu semua. Kalaupun ada, manusia tidak akan pernah bisa maju bukan?. Ketika dunia memiliki kapsul waktu untuk tujuan apapun itu, aku rasa Tuhan tidak akan membiarkannya. Karena, Tuhan tahu apa yang terbaik bagi makhluknya dan juga tahu bagaimana kita sebagai manusia harus menjalani apa yang ada di depan mata. Menjadikan yang lalu sebagai pelajaran, dan menjadikan masa depan sebagai arang untuk memacu semangat di hari sekarang. 

Tetapi, kalau boleh aku berdoa, ingin rasanya melihat diri ini beberapa tahun yang lalu. Agar aku bisa tahu sejauh mana aku melangkah, sejauh apa aku berubah. Rasanya aku seperti mendiami raga yang tidak tahu kemana harus melangkah, dan hanya menuruti apa yang ada di sekitar. Meyakini sepenuh hati bahwa suatu saat nanti akan ada waktu baik yang datang dalam hidup ini. Ya, yang bisa dilakukan hanya menunggu, menanti waktu itu akan datang dengan sendirinya. Meskipun ada sekian persen dalam diri yang juga yakin bahwa untuk beberapa orang mungkin hari itu tidak pernah ada. Karena, Tuhan adil dalam memberikan setiap porsi kehidupan pada makhluknya. 

Tetapi, meskipun diri ini tidak bisa untuk menikmati waktu baik itu mungkin aku ingin menikmatinya dalam mimpi yang indah. Karena perasaan yang tertinggal ketika berada di mimpi nyaris membuat dunia ini terasa lebih baik untuk dilewati dan dijalani. Hingga aku selalu berdoa untuk selalu diberi mimpi yang indah agar keesokan paginya aku bisa bangun tanpa merasa sakit kepala, tapi merasa senang karena mimpi yang meskipun untuk beberapa hal aku tidak bisa mengingatnya. 

Seandainya bisa semudah itu dikabulkan, dan seandainya semudah itu menjalani hidup. Mungkin itu satu-satunya cara bagi diri ini untuk tetap waras dan tetap menapakkan kaki di bumi dengan segala tekanan dari berbagai arah. Seandainya aku adalah angin, ingin rasanya berhembus kesana kemari tanpa memiliki beban pikiran yang membuat sakit kepala. Seandainya aku adalah tanaman yang dibutuhkan manusia untuk menghirup oksigen. Seandainya aku adalah matahari yang kedatangan dan kepulangannya selalu membuat orang-orang takjub. Seandainya... Seandainya... dan Seandainya... aku lebih bisa untuk menghargai diri sendiri agar tidak pernah berandai seperti ini. Berandai kalau diri ini mungkin lebih berguna menjadi makhluk hidup yang lain daripada menjadi layaknya manusia. Ah, lagi-lagi aku menggerutu kepada Tuhan. Namun, aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan bahwa salah satu makhluknya ini sedang terombang-ambing dalam perjalanan menuju rumah-Nya. Perjalanan yang tidak mudah namun akan selalu diusahakan untuk tetap di jalan utama meskipun harus menampar diri sendiri agar tetap waras. 



Yogyakarta, 27 Juni 2022.
00.26 AM. 
-puspawarsa-

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Patah

Kini semesta benar-benar ingin membuatku berhenti untuk tak lagi menuliskanmu pada lembar baru, meskipun dengan tinta pudar sekalipun. Sedikit sulit bagiku, karena sudah lama namamu mendiami hati yang sulit dijangkau oleh siapapun. Bahkan diriku sendiri. Sudah banyak cara kucoba untuk sedikit menghilangkan namamu disana, tetapi tak ada yang berubah. Seakan namamu memang sudah sepatutnya disana dan tidak akan pergi kemanapun. Beberapa orang mengataiku bodoh bahkan terlampau gila karena mencintai orang sepertimu yang sudah membuat luka sebegitu dalamnya.  Mereka memintaku untuk melupakan sekaligus menghilangkan bayang dirimu dari segala memori dan kenangan yang ada di otak, tapi mereka tidak memberitahu bagaimana usaha untuk melakukan itu semua. Mereka hanya menyuruh namun tidak memberi cara padaku. Lantas, aku harus apa? menunggu? bukankah itu sudah kulakukan selama enam tahun itu. Ah, enam tahun, rasanya baru kemarin tetapi waktu sudah berjalan cepat seakan tidak memberi sekat bagi...

Lelah

              Diri ini hanya butuh untuk didengarkan, diri ini tidak butuh sebauh sumpah serapah yang keluar dari mulut orang lain. Diri ini juga tidak bisa menerima sebuah kalimat penghakiman, karena masalah dari dalam diri ini terlalu sepele bagimu. Mudah bagimu untuk berkata seperti itu, tapi sulit bagi diri ini untuk tidak menelannya mentah-mentah dan menghinggapi ruang paling dalam di hatinya. Mengusik kembali api yang ada di hidupnya. Bukannya lebih mudah untuk memberi diri ini waktu, dan dirimu hanya cukup menutup mulut.               Kalau suatu hari nanti diri ini yang sesungguhnya benar-benar menghilang, dirimu yang patut disalahkan. Karena dengan dirimu membuka mulut, semua api dalam diri ini semakin besar hingga jiwa pun tak mampu memadamkannya lagi. Diri ini bisa saja untuk berterus terang, tetapi terlalu melelahkan untuk melakukan itu semua dan melelahkan juga menerima kalimat itu bulat-bu...