Langsung ke konten utama

Katanya



Hai, ini aku lagi. Seorang perempuan yang sedang tersesat di tengah hutan gelap dan minim cahaya. Ketika cahaya sedikit menyinari hutan gelap ini, perlahan cahaya menghilang digantikan kabut tebal yang sanggup menelan siapa saja yang ada disana. Untungnya, aku tertelan dan tidak bisa melihat apapun. Membuka mata saja enggan apa lagi berjalan. Mungkin kondisi jiwaku bisa diibaratkan seperti itu. Tidak tahu kemana harus mengarah dan juga tidak tahu kapan akan diberi jalan pulang. Mungkin beberapa hal disekitar yang membuatku seperti ini, apalagi kalau bukan mempertanyakan hidup?. Klise tapi itu memang benar adanya. Aku yakin bukan aku saja yang berpikiran seperti itu tetapi beberapa dari manusia lain juga berpikiran hal yang sama. Pertanyaan yang tidak butuh jawaban tapi tetap santer ada di kepala. "Aku hidup untuk apa sih?" atau pertanyaan seperti "Gunanya aku hidup untuk apa kalau aku kayak gini?". Pertanyaan semacam itu hinggap di kepala dan tak jarang membuat sakit kepala sendiri. Hebat bukan, sebuah pertanyaan yang mampu membuat diri kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri.

Kata orang "namanya juga hidup, ya gini" kata gini rasanya terlalu ambigu dan terlalu luas untuk dijabarkan. Bisa jadi kata itu menjadi sebuah penghiburan bagi diri sendiri yang terlalu lelah untuk sekedar membuka mata. Sebab ketika membuka mata rasanya masalah kembali berat lagi untuk dipikul di pundak. Masalah apapun itu, entah keluarga, pekerjaan, ataupun percintaan. Seseorang pernah berkata bahwa aku perlu menikmati hidup, perkataan itu kujawab dengan kalimat yang sedikit menyedihkan. Begini jawabanku "Aku menikmati hidup, tapi jiwaku mati dan serasa hidup dalam kekosongan". Orang itu terdiam seakan tahu kalau masalah yang kuhadapi sebegitu besarnya. 

Tapi apapun itu, aku tidak melakukan apa-apa untuk sekedar meringankan masalah itu. Sebab aku tahu akhirnya akan selalu sama, yaitu aku tetap di tempat tak punya apa-apa untuk sekedar melangkah maju. Aku bisa saja berlari tapi di ujung sana jurang akan menanti. Bergerak dan tidak bergerak keadaan akan tetap sama. Lalu, apa yang harus dilakukan?. Jawabannya simple, aku tidak tahu. Aku seperti mengikuti arus ombak di laut dan terombang-ambing entah kemana. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelah

              Diri ini hanya butuh untuk didengarkan, diri ini tidak butuh sebauh sumpah serapah yang keluar dari mulut orang lain. Diri ini juga tidak bisa menerima sebuah kalimat penghakiman, karena masalah dari dalam diri ini terlalu sepele bagimu. Mudah bagimu untuk berkata seperti itu, tapi sulit bagi diri ini untuk tidak menelannya mentah-mentah dan menghinggapi ruang paling dalam di hatinya. Mengusik kembali api yang ada di hidupnya. Bukannya lebih mudah untuk memberi diri ini waktu, dan dirimu hanya cukup menutup mulut.               Kalau suatu hari nanti diri ini yang sesungguhnya benar-benar menghilang, dirimu yang patut disalahkan. Karena dengan dirimu membuka mulut, semua api dalam diri ini semakin besar hingga jiwa pun tak mampu memadamkannya lagi. Diri ini bisa saja untuk berterus terang, tetapi terlalu melelahkan untuk melakukan itu semua dan melelahkan juga menerima kalimat itu bulat-bu...

Patah

Kini semesta benar-benar ingin membuatku berhenti untuk tak lagi menuliskanmu pada lembar baru, meskipun dengan tinta pudar sekalipun. Sedikit sulit bagiku, karena sudah lama namamu mendiami hati yang sulit dijangkau oleh siapapun. Bahkan diriku sendiri. Sudah banyak cara kucoba untuk sedikit menghilangkan namamu disana, tetapi tak ada yang berubah. Seakan namamu memang sudah sepatutnya disana dan tidak akan pergi kemanapun. Beberapa orang mengataiku bodoh bahkan terlampau gila karena mencintai orang sepertimu yang sudah membuat luka sebegitu dalamnya.  Mereka memintaku untuk melupakan sekaligus menghilangkan bayang dirimu dari segala memori dan kenangan yang ada di otak, tapi mereka tidak memberitahu bagaimana usaha untuk melakukan itu semua. Mereka hanya menyuruh namun tidak memberi cara padaku. Lantas, aku harus apa? menunggu? bukankah itu sudah kulakukan selama enam tahun itu. Ah, enam tahun, rasanya baru kemarin tetapi waktu sudah berjalan cepat seakan tidak memberi sekat bagi...

Pendam

      Dari awal memang ada yang salah, mengira semua itu hanya sesaat. Sampai pada suatu titik, kesalahan itu membuatku tersadar. Aku menyembunyikan sesuatu, hal yang tak pernah aku ceritakan kepada siapapun, bahkan orang terdekat sekalipun.          Aku sama seperti manusia lain, yang hanya berpikiran sempit, tidak peduli dengan segala konsekuensi. Toh, yang tau hanya aku. Bagi orang yang sedang jatuh cinta namun tak mengenal luka itu sangat mudah. Namun, untuk orang yang sedang jatuh cinta namun sudah mengenal apa itu luka itu bukan perkara yang mudah. Takut luka itu akan kembali untuk kedua kali.         Katakanlah seorang pengecut yang tak mau mengakui perasaannya sendiri. Padahal dirinya sendiri tak rela jika orang yang dicinta dekat atau sudah menjalin hubungan yang bukan dengan dirinya. Entah itu ada sesuatu yang membuatnya takut untuk melakukannya.      Ini sangat menjengkelkan, ketika se...