Langsung ke konten utama

Turn Back To You

       


        Entah mengapa diri ini selalu berada di titik yang sama. Entah mengapa diri ini selalu menyerah di setiap kesempatan. Dan entah mengapa diri ini selalu meragukan yang namanya keajaiban. Mengira semua akan terasa baik-baik saja jika mengikuti semua peraturan yang ada, dan selalu berada di jalan yang benar jika menuruti kata para tetua. Nyatanya diri ini semakin terikat dan tersiksa dengan semua omongan yang tertuju. Ingin lepas dari rasa sungkan sangatlah susah karena diri ini sudah terlampau lelah. Maafkan diri ini yang selalu muram di setiap kesempatan yang menyenangkan. 

        Apa sebuah maaf cukup untuk melepas semua ikatan? Rasanya tidak cukup, karena isi kepala dan hati selalu bertolak belakang dan akan selalu kembali pada perasaan tentangnya lagi. Memikirkan semua masukan dari beberapa teman yang sudah untuk berapa kali mengatai diriku ini bodoh yang sudah tak tertolong. Mungkin sudah gumoh dengan kalimat "Ujung-ujungnya ya balik ke dia lagi perasaannya". Seperti diri ini tidak punya kontrol atas perasaan yang sangat menggelitik itu. Ada satu waktu aku melupakan hadirnya ia di hidupku, namun sebaliknya ada satu hal yang membuat diri ini terpicu untuk mengingatnya bahkan hanya mendengar namanya yang sama dengan orang yang lain. 

        Terkesan tidak tahu malu, tapi jauh di lubuk hati paling ada namanya masih ada disana. Seseorang seperti aku dan juga orang lain yang mungkin memiliki kehendak untuk merubah itu tidak akan mudah untuk meraih ataupun membukanya. Karena kesan pertama akan membekas selamanya bukan?. Disana akan tersimpan rapi semua momen maupun memori yang membuat diri ini kembali mengingat senyum bahagia yang pernah ada di hidup. Berharap suatu saat nanti pintu itu akan memudar dengan sendirinya, karena aku sudah terlalu lelah berkeliaran di sekitar pintu itu untuk waktu yang lama. 

        Manusia punya masanya masing-masing dalam hidup seseorang, dan untuk orang yang ada disana justru mendiami rumah yang paling nyaman untuk membuat sang pemilik hati gelagapan dengan perasaannya sendiri. Kenapa bisa, rasa suka, sayang, bisa setulus ini untuk orang yang sangat tidak pantas untuk mendapatkannya. Kenapa aku memberi perasaan yang begitu berharga kepadanya, padahal orang itu sekedar peduli saja tidak. Miris memang tapi kenyataan sering begitu, aku bisa diambil contohnya. Menulis ini di tengah malam dengan pikiran yang berpencar ke segala arah membuat sakit kepala. Tidak bisa mengistirahatkan mata, karena ia tak mau dibuat untuk mengalah. Mungkin waktunya untuk merenungi lagi apa yang sudah terjadi, walaupun lingkaran seperti ini tidak akan putus dan akan selalu berputar.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Patah

Kini semesta benar-benar ingin membuatku berhenti untuk tak lagi menuliskanmu pada lembar baru, meskipun dengan tinta pudar sekalipun. Sedikit sulit bagiku, karena sudah lama namamu mendiami hati yang sulit dijangkau oleh siapapun. Bahkan diriku sendiri. Sudah banyak cara kucoba untuk sedikit menghilangkan namamu disana, tetapi tak ada yang berubah. Seakan namamu memang sudah sepatutnya disana dan tidak akan pergi kemanapun. Beberapa orang mengataiku bodoh bahkan terlampau gila karena mencintai orang sepertimu yang sudah membuat luka sebegitu dalamnya.  Mereka memintaku untuk melupakan sekaligus menghilangkan bayang dirimu dari segala memori dan kenangan yang ada di otak, tapi mereka tidak memberitahu bagaimana usaha untuk melakukan itu semua. Mereka hanya menyuruh namun tidak memberi cara padaku. Lantas, aku harus apa? menunggu? bukankah itu sudah kulakukan selama enam tahun itu. Ah, enam tahun, rasanya baru kemarin tetapi waktu sudah berjalan cepat seakan tidak memberi sekat bagi...

Seandainya

Ketika malam menyambut dan aku kembali merenung, disitulah jiwa kembali ke tempat yang seharusnya tidak pernah aku genggam selama ini. Perasaan bagaimana aku melewati itu semua masih sangat terasa bahkan ingin rasanya memutar kembali waktu. Bukan untuk mengubah segalanya, melainkan melihat dari kejauhan bagaimana melihat diriku sendiri kala itu. Tapi, aku tahu kalau memutar balik waktu hanya bisa dalam imajinasi saja, tidak ada aksi yang bisa merealisasikan itu semua. Kalaupun ada, manusia tidak akan pernah bisa maju bukan?. Ketika dunia memiliki kapsul waktu untuk tujuan apapun itu, aku rasa Tuhan tidak akan membiarkannya. Karena, Tuhan tahu apa yang terbaik bagi makhluknya dan juga tahu bagaimana kita sebagai manusia harus menjalani apa yang ada di depan mata. Menjadikan yang lalu sebagai pelajaran, dan menjadikan masa depan sebagai arang untuk memacu semangat di hari sekarang.  Tetapi, kalau boleh aku berdoa, ingin rasanya melihat diri ini beberapa tahun yang lalu. Agar aku bisa...

Lelah

              Diri ini hanya butuh untuk didengarkan, diri ini tidak butuh sebauh sumpah serapah yang keluar dari mulut orang lain. Diri ini juga tidak bisa menerima sebuah kalimat penghakiman, karena masalah dari dalam diri ini terlalu sepele bagimu. Mudah bagimu untuk berkata seperti itu, tapi sulit bagi diri ini untuk tidak menelannya mentah-mentah dan menghinggapi ruang paling dalam di hatinya. Mengusik kembali api yang ada di hidupnya. Bukannya lebih mudah untuk memberi diri ini waktu, dan dirimu hanya cukup menutup mulut.               Kalau suatu hari nanti diri ini yang sesungguhnya benar-benar menghilang, dirimu yang patut disalahkan. Karena dengan dirimu membuka mulut, semua api dalam diri ini semakin besar hingga jiwa pun tak mampu memadamkannya lagi. Diri ini bisa saja untuk berterus terang, tetapi terlalu melelahkan untuk melakukan itu semua dan melelahkan juga menerima kalimat itu bulat-bu...