Langsung ke konten utama

Lelah


            Diri ini hanya butuh untuk didengarkan, diri ini tidak butuh sebauh sumpah serapah yang keluar dari mulut orang lain. Diri ini juga tidak bisa menerima sebuah kalimat penghakiman, karena masalah dari dalam diri ini terlalu sepele bagimu. Mudah bagimu untuk berkata seperti itu, tapi sulit bagi diri ini untuk tidak menelannya mentah-mentah dan menghinggapi ruang paling dalam di hatinya. Mengusik kembali api yang ada di hidupnya. Bukannya lebih mudah untuk memberi diri ini waktu, dan dirimu hanya cukup menutup mulut. 
          Kalau suatu hari nanti diri ini yang sesungguhnya benar-benar menghilang, dirimu yang patut disalahkan. Karena dengan dirimu membuka mulut, semua api dalam diri ini semakin besar hingga jiwa pun tak mampu memadamkannya lagi. Diri ini bisa saja untuk berterus terang, tetapi terlalu melelahkan untuk melakukan itu semua dan melelahkan juga menerima kalimat itu bulat-bulat. Sepertinya diri ini tidak usah makan nasi, makan kalimat penghakiman dari dirimu sudah cukup membuat kenyang hingga serasa ingin muntah. 
          Mengapa dirimu tidak bisa untuk tidak memaknai kalimat "lelah" yang aku ucap dengan sebenar-benarnya. Oh iya lupa, mungkin dirimu terlalu biasa meremehkan masalah orang lain. Tetapi, asal dirimu tahu kalau sebenarnya kamulah yang selalu membuat orang lain merasa hidupnya paling menyedihkan. Merasa bahwa diri ini memang tidak pantas untuk beristirahat sejenak. Mungkin dirimu ingin melihat diri ini lebih liar dari yang bisa dirimu bayangkan. 
        Untuk sekarang, aku tak lagi percaya kepadamu. Kata-katamu cukup membuat aku mengerti kalau sejatinya manusia terlalu banyak mengutuk daripada mendukung. Dirimu bukan lagi orang yang akan aku prioritaskan lagi, dirimu bukan lagi menjadi orang tempat aku bersandar. Sebab dengan sifatmu itu aku tidak ingin mempercayai dirimu sepenuhnya, menakutkan kalau cerita lain akan mendapat kalimat yang lebih buruk dari sebelumnya. 
     Seperti rasa peduliku pada dirimu telah menguap ke udara begitu saja sejak dirimu mengucap kalimat terhadap diri ini yang sedang berada di fase paling terberat dalam hidupnya. Dirimu hanya akan melihat diri ini tertawa yang sebenarnya hambar, bahagia yang sebenarnya belum hadir di hidupnya. Terimakasih telah menyadarkan diri ini bahwa memang di dunia manusia memang harus hidup sendirian meskipun memiliki keluarga dan teman. Lucunya ada keluarga yang sepertinya memang bukan keluarga, dan ada teman yang menganggapmu sebagai keluarga. Merasa dihargai seperti itu cukup membuat diri ini senang. Diri ini saja rindu kapan tawa bahagia yang sebenarnya akan datang. Tetapi, yang bisa diri ini lakukan hanyalah percaya pada semesta. 
      Diri ini sepertinya layaknya orang lain yang lelah akan semuanya, hingga ingin berucap pun rasanya tak sanggup. Kalau orang menganggapnya diri ini tak banyak bicara berarti marah, lalu bagaimana dengan orang lain yang tak banyak omong ternyata bahagia?. Dirimu tidak bisa memukul rata semua ekspresi dan sikap yang orang lain tunjukkan itu sama, barangkali ia mengenakan topeng kesepuluh atau topeng yang keseratus. Dirimu tidak mengerti dan paham situasi orang lain, tetapi dirimu lebih mengerti untuk membuatnya sulit untuk bangkit. 
        Apa kalau diri ini bangkit dirimu akan berhenti mengoceh? tentuk tidak kan?. Kebiasaan memang sulit dihilangkan, tetapi kalau kebiasaan buruk apa dirimu tidak mau mencoba untuk memusnahkannya?. Pikiran manusia yang selalu berada di lingkaran yang sama membuat dirimu merasa seperti orang tidak bersalah dan menganggap itu wajar. Tetapi, menurutmu membunuh jati diri seseorang itu wajar?. Ketika seseorang kehilangan jati dirinya sendiri, orang lain tidak akan bisa menemukannya pun dengan polisi atau detektif. 
            

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Patah

Kini semesta benar-benar ingin membuatku berhenti untuk tak lagi menuliskanmu pada lembar baru, meskipun dengan tinta pudar sekalipun. Sedikit sulit bagiku, karena sudah lama namamu mendiami hati yang sulit dijangkau oleh siapapun. Bahkan diriku sendiri. Sudah banyak cara kucoba untuk sedikit menghilangkan namamu disana, tetapi tak ada yang berubah. Seakan namamu memang sudah sepatutnya disana dan tidak akan pergi kemanapun. Beberapa orang mengataiku bodoh bahkan terlampau gila karena mencintai orang sepertimu yang sudah membuat luka sebegitu dalamnya.  Mereka memintaku untuk melupakan sekaligus menghilangkan bayang dirimu dari segala memori dan kenangan yang ada di otak, tapi mereka tidak memberitahu bagaimana usaha untuk melakukan itu semua. Mereka hanya menyuruh namun tidak memberi cara padaku. Lantas, aku harus apa? menunggu? bukankah itu sudah kulakukan selama enam tahun itu. Ah, enam tahun, rasanya baru kemarin tetapi waktu sudah berjalan cepat seakan tidak memberi sekat bagi...

Pendam

      Dari awal memang ada yang salah, mengira semua itu hanya sesaat. Sampai pada suatu titik, kesalahan itu membuatku tersadar. Aku menyembunyikan sesuatu, hal yang tak pernah aku ceritakan kepada siapapun, bahkan orang terdekat sekalipun.          Aku sama seperti manusia lain, yang hanya berpikiran sempit, tidak peduli dengan segala konsekuensi. Toh, yang tau hanya aku. Bagi orang yang sedang jatuh cinta namun tak mengenal luka itu sangat mudah. Namun, untuk orang yang sedang jatuh cinta namun sudah mengenal apa itu luka itu bukan perkara yang mudah. Takut luka itu akan kembali untuk kedua kali.         Katakanlah seorang pengecut yang tak mau mengakui perasaannya sendiri. Padahal dirinya sendiri tak rela jika orang yang dicinta dekat atau sudah menjalin hubungan yang bukan dengan dirinya. Entah itu ada sesuatu yang membuatnya takut untuk melakukannya.      Ini sangat menjengkelkan, ketika se...