Langsung ke konten utama

I am not fine


            Kehidupan yang fana ini membuat jiwa sering kali selalu beradu satu sama lain tanpa mengenal waktu. Jiwa yang rapuh karena keadaan dan juga pikiran, pun dengan raga yang selalu menyalahkan. Kini jiwa hanya bisa mengeluarkan kegilaannya lewat raga. Raga hanya bisa menerima semua itu tanpa paksaan, karena ia juga paham kalau ia dan jiwa sama-sama lelah dengan semuanya. Entah lelah dengan diri sendiri, teman, pun keluarga. Setiap api yang membakar jiwa muncul sebuah perilaku raga yang tidak seharusnya dilakukan. Jiwa mengasihani raga, raga pun mengasihaninya. Mereka hanya punya satu sama lain dan menyalahkan satu sama lain. Ketika kesatuan itu sudah menggila, waktu tetap berjalan mengawasi keduanya dengan berdiam diri. Tidak tahu kapan ada uluran tangan yang akan membantu, dan kapan raga akan berhenti berperilaku tidak normal. 
          Jiwa butuh waktu katanya, raga pun menuruti. Raga ingin berhenti, namun jiwa mengancam akan mati. Kini, mereka hanya bisa beradu, sembari waktu mengawasi mereka berdua. Raga memutuskan untuk mengonsumsi sesuatu yang sedikit membuat jiwa sedikit tenang. Namun, raga salah karena mengonsumsi hal tersebut tak membuat jiwa menjadi punya perasaan ceria dan bahagia lagi. Ia pikir dengan adanya asupan hal tersebut jiwa sedikit bisa berubah. Namun, nyatanya tidak, ia hanya bisa sedikit tenang untuk sementara waktu sebelum raga kembali melakukan hal tidak normal lagi. Keduanya saling menyakiti satu sama lain karena mereka tidak punya apalagi, karena memang mereka harus saling berbagi dalam satu tubuh. 
         Jiwa terlalu menyimpan banyak api dalam hatinya, memadamkannya dengan segenap tenaga yang ia punya. Seiring berjalannya waktu jiwa menjadi tidak memiliki perasaan, ia mati rasa karena terlalu banyak tenaga yang ia keluarkan untuk memadamkan api itu. Raga hanya bisa diam menyaksikan dengan tidak mengisi tenaga sama sekali. Menyayangkan dan menangisi keadaan jiwa. Raga pikir ia akan melihat jiwa ceria nantinya, nyatanya ia juga ikut putus asa. Karena kaki Raga selalu berada di kobaran api yang menyala. Raga ingin keluar dari lingkaran itu untuk membuat jiwa kembali tersenyum. Tak apa jika nanti ia terluka, yang penting jiwa masih bisa untuk ceria. 
      Raga mencoba melangkah keluar dari kobaran api itu, rasanya memang menyakitkan tapi juga terdapat kepuasan disana. Namun, setelahnya jiwa masih dalam kondisi yang sama. Raga lupa kalau api masih meninggalkan debu di dalam jiwa. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi membantu jiwa yang sedang tidak merasakan apa-apa. Raga berharap, ia dan jiwa bisa bersama satu sama lain meskipun debu di dalam jiwa masih belum hilang. Raga mencoba untuk menghibur jiwa dengan bersikap ceria dan lucu, namun jiwa juga tak berkutik. Jiwa hanya bisa terdiam, kemudian menangisi perlakuan raga yang malah membuat jiwa semakin lelah. Jiwa menangis, raga terdiam. Karena mereka sama-sama lelah harus bersikap baik-baik saja di depan orang lain. Kehidupan jiwa dan raga mungkin tidak lurus, namun mereka masih memiliki harapan untuk bisa bangkit bersama pelan-pelan. 



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Patah

Kini semesta benar-benar ingin membuatku berhenti untuk tak lagi menuliskanmu pada lembar baru, meskipun dengan tinta pudar sekalipun. Sedikit sulit bagiku, karena sudah lama namamu mendiami hati yang sulit dijangkau oleh siapapun. Bahkan diriku sendiri. Sudah banyak cara kucoba untuk sedikit menghilangkan namamu disana, tetapi tak ada yang berubah. Seakan namamu memang sudah sepatutnya disana dan tidak akan pergi kemanapun. Beberapa orang mengataiku bodoh bahkan terlampau gila karena mencintai orang sepertimu yang sudah membuat luka sebegitu dalamnya.  Mereka memintaku untuk melupakan sekaligus menghilangkan bayang dirimu dari segala memori dan kenangan yang ada di otak, tapi mereka tidak memberitahu bagaimana usaha untuk melakukan itu semua. Mereka hanya menyuruh namun tidak memberi cara padaku. Lantas, aku harus apa? menunggu? bukankah itu sudah kulakukan selama enam tahun itu. Ah, enam tahun, rasanya baru kemarin tetapi waktu sudah berjalan cepat seakan tidak memberi sekat bagi...

Seandainya

Ketika malam menyambut dan aku kembali merenung, disitulah jiwa kembali ke tempat yang seharusnya tidak pernah aku genggam selama ini. Perasaan bagaimana aku melewati itu semua masih sangat terasa bahkan ingin rasanya memutar kembali waktu. Bukan untuk mengubah segalanya, melainkan melihat dari kejauhan bagaimana melihat diriku sendiri kala itu. Tapi, aku tahu kalau memutar balik waktu hanya bisa dalam imajinasi saja, tidak ada aksi yang bisa merealisasikan itu semua. Kalaupun ada, manusia tidak akan pernah bisa maju bukan?. Ketika dunia memiliki kapsul waktu untuk tujuan apapun itu, aku rasa Tuhan tidak akan membiarkannya. Karena, Tuhan tahu apa yang terbaik bagi makhluknya dan juga tahu bagaimana kita sebagai manusia harus menjalani apa yang ada di depan mata. Menjadikan yang lalu sebagai pelajaran, dan menjadikan masa depan sebagai arang untuk memacu semangat di hari sekarang.  Tetapi, kalau boleh aku berdoa, ingin rasanya melihat diri ini beberapa tahun yang lalu. Agar aku bisa...

Lelah

              Diri ini hanya butuh untuk didengarkan, diri ini tidak butuh sebauh sumpah serapah yang keluar dari mulut orang lain. Diri ini juga tidak bisa menerima sebuah kalimat penghakiman, karena masalah dari dalam diri ini terlalu sepele bagimu. Mudah bagimu untuk berkata seperti itu, tapi sulit bagi diri ini untuk tidak menelannya mentah-mentah dan menghinggapi ruang paling dalam di hatinya. Mengusik kembali api yang ada di hidupnya. Bukannya lebih mudah untuk memberi diri ini waktu, dan dirimu hanya cukup menutup mulut.               Kalau suatu hari nanti diri ini yang sesungguhnya benar-benar menghilang, dirimu yang patut disalahkan. Karena dengan dirimu membuka mulut, semua api dalam diri ini semakin besar hingga jiwa pun tak mampu memadamkannya lagi. Diri ini bisa saja untuk berterus terang, tetapi terlalu melelahkan untuk melakukan itu semua dan melelahkan juga menerima kalimat itu bulat-bu...