Langsung ke konten utama

Berlabuh

 
 

  Datang dengan wajah tak berdosa, pergi dengan raga tak bersalah. Itu kelakuanmu dan keburukanmu. Yang kulakukan sama seperti dulu, diam menikmati hati yang sudah pelik. Memikirkan waktu yang kusia-sia hanya untuk menggerutu semua kejadian itu. Mengorek kembali luka yang sudah diobati sebegitu lamanya.

    Apa yang membuatmu sampai hati untuk menjadikan diriku sebagai tempat untukmu berlabuh. Sejak awal hubungan ini takkan berakhir dengan aku dan dirimu sebagai pasangan. Terlalu dini untuk mencapai itu semua. Terakhir kali aku bilang pada diri sendiri akan pelan-pelan berusaha untuk melupakan.

    Nyatanya semua yang kuekspektasi hanyalah sebuah rencana yang aku rancang sendiri supaya nanti aku tak terlalu sakit hati. Berusaha melupakan bukankah akan terus memikirkan namamu?. Jalan yang kuambil untuk melupakan adalah sebuah kesalahan. 

    Mengapa dari sekian banyak cerita dan ekspektasi, aku hanya berhenti pada satu titik "bagaimana jika aku masih mencintainya?". Sudah kuputuskan, supaya tak lagi memikirkan nama atau menuliskan dirimu pada lembar selanjutnya, aku mengikhlaskan semuanya. 

   Semua, termasuk saat kamu mengkhianati sebuah rasa cinta, juga saat menjadikanku sebuah tempat berlabuh yang beberapa jam kemudian hilang ditelan bumi. Terimakasih karena sudah membuat hati perempuan ini rapuh.

    Perasaan ini lelah, menanti sesuatu yang sepertinya tidak akan datang. Harusnya aku berpaling dari awal, tetapi ego membuat kakiku enggan berhenti. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelah

              Diri ini hanya butuh untuk didengarkan, diri ini tidak butuh sebauh sumpah serapah yang keluar dari mulut orang lain. Diri ini juga tidak bisa menerima sebuah kalimat penghakiman, karena masalah dari dalam diri ini terlalu sepele bagimu. Mudah bagimu untuk berkata seperti itu, tapi sulit bagi diri ini untuk tidak menelannya mentah-mentah dan menghinggapi ruang paling dalam di hatinya. Mengusik kembali api yang ada di hidupnya. Bukannya lebih mudah untuk memberi diri ini waktu, dan dirimu hanya cukup menutup mulut.               Kalau suatu hari nanti diri ini yang sesungguhnya benar-benar menghilang, dirimu yang patut disalahkan. Karena dengan dirimu membuka mulut, semua api dalam diri ini semakin besar hingga jiwa pun tak mampu memadamkannya lagi. Diri ini bisa saja untuk berterus terang, tetapi terlalu melelahkan untuk melakukan itu semua dan melelahkan juga menerima kalimat itu bulat-bu...

Patah

Kini semesta benar-benar ingin membuatku berhenti untuk tak lagi menuliskanmu pada lembar baru, meskipun dengan tinta pudar sekalipun. Sedikit sulit bagiku, karena sudah lama namamu mendiami hati yang sulit dijangkau oleh siapapun. Bahkan diriku sendiri. Sudah banyak cara kucoba untuk sedikit menghilangkan namamu disana, tetapi tak ada yang berubah. Seakan namamu memang sudah sepatutnya disana dan tidak akan pergi kemanapun. Beberapa orang mengataiku bodoh bahkan terlampau gila karena mencintai orang sepertimu yang sudah membuat luka sebegitu dalamnya.  Mereka memintaku untuk melupakan sekaligus menghilangkan bayang dirimu dari segala memori dan kenangan yang ada di otak, tapi mereka tidak memberitahu bagaimana usaha untuk melakukan itu semua. Mereka hanya menyuruh namun tidak memberi cara padaku. Lantas, aku harus apa? menunggu? bukankah itu sudah kulakukan selama enam tahun itu. Ah, enam tahun, rasanya baru kemarin tetapi waktu sudah berjalan cepat seakan tidak memberi sekat bagi...

Pendam

      Dari awal memang ada yang salah, mengira semua itu hanya sesaat. Sampai pada suatu titik, kesalahan itu membuatku tersadar. Aku menyembunyikan sesuatu, hal yang tak pernah aku ceritakan kepada siapapun, bahkan orang terdekat sekalipun.          Aku sama seperti manusia lain, yang hanya berpikiran sempit, tidak peduli dengan segala konsekuensi. Toh, yang tau hanya aku. Bagi orang yang sedang jatuh cinta namun tak mengenal luka itu sangat mudah. Namun, untuk orang yang sedang jatuh cinta namun sudah mengenal apa itu luka itu bukan perkara yang mudah. Takut luka itu akan kembali untuk kedua kali.         Katakanlah seorang pengecut yang tak mau mengakui perasaannya sendiri. Padahal dirinya sendiri tak rela jika orang yang dicinta dekat atau sudah menjalin hubungan yang bukan dengan dirinya. Entah itu ada sesuatu yang membuatnya takut untuk melakukannya.      Ini sangat menjengkelkan, ketika se...