Langsung ke konten utama

Sebuah Hadiah

   

    Sang pencipta memberikan hadiah yang tak bisa aku terima dari orang lain. Satu hal yang membuatku tersadar, semua kejadian dan peristiwa yang bersangkutan dengan dirimu membawa kegelisahan dan ketakutan. Takut itu hanya aku yang terlaku geer, dan gelisah kalau hanya aku yang saja yang berasumsi seperti itu. Padahal, ada banyak manusia di tempat itu. Aku percaya pada kalimat "Di dunia ini tidak ada kebetulan, rumput bergoyang saja itu sudah takdir sang pencipta" kemudian aku bertanya-tanya, apakah berpapasan, berdiri dekat denganmu termasuk takdir sang pencipta? Oleh karena itu aku menyebut itu sebuah hadiah yang tidak pernah kulupakan. Sebuah kejutan manis yang menenangkan hati.

     Aku terlalu pesimis, seperti orang pada umumnya apabila memendam rasa. Terlalu takut akan sebuah kemungkinan yang tidak pernah kukira, yang juga akan menimbulkan luka baru. Padahal itu belum permulaan, mungkin itu pintu untukku menuju sesuatu yang kadang kuangankan. Tak apa kan kalau aku hanya berangan, toh sedikit mustahil untuk terealisasikan. Semua orang yang menyimpan rasa juga akan begitu, pura-pura biasa saja padahal di dalam hatinya ada letupan kecil yang sanggup membuat dirinya tersenyum seharian, atau mungkin ketika kejadian itu terputar kembali di memori ada kemungkinan perasaan dan senyum itu tetap ada sambil berkata pada diri sendiri "lucu ya".

      Namun, aku bersyukur ketika Tuhan memberiku perasaan ini, karena dengan begitu aku tahu bahwa mencintai seseorang dalam diam memang tidak mudah namun sangat menyenangkan. Bersikap biasa saja dan ketika orang-orang membicarakan orang disuka membuat aku diam saja, menyembunyikan semua yang ada. Karena, aku hanya ingin perasaan ini ada begitu saja tanpa orang lain ketahui. Terasa lebih menyenangkan saja, karena tidak perlu khawatir orang yang disuka akan menjauh dan tahu akan perasaan ini. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Patah

Kini semesta benar-benar ingin membuatku berhenti untuk tak lagi menuliskanmu pada lembar baru, meskipun dengan tinta pudar sekalipun. Sedikit sulit bagiku, karena sudah lama namamu mendiami hati yang sulit dijangkau oleh siapapun. Bahkan diriku sendiri. Sudah banyak cara kucoba untuk sedikit menghilangkan namamu disana, tetapi tak ada yang berubah. Seakan namamu memang sudah sepatutnya disana dan tidak akan pergi kemanapun. Beberapa orang mengataiku bodoh bahkan terlampau gila karena mencintai orang sepertimu yang sudah membuat luka sebegitu dalamnya.  Mereka memintaku untuk melupakan sekaligus menghilangkan bayang dirimu dari segala memori dan kenangan yang ada di otak, tapi mereka tidak memberitahu bagaimana usaha untuk melakukan itu semua. Mereka hanya menyuruh namun tidak memberi cara padaku. Lantas, aku harus apa? menunggu? bukankah itu sudah kulakukan selama enam tahun itu. Ah, enam tahun, rasanya baru kemarin tetapi waktu sudah berjalan cepat seakan tidak memberi sekat bagi...

Seandainya

Ketika malam menyambut dan aku kembali merenung, disitulah jiwa kembali ke tempat yang seharusnya tidak pernah aku genggam selama ini. Perasaan bagaimana aku melewati itu semua masih sangat terasa bahkan ingin rasanya memutar kembali waktu. Bukan untuk mengubah segalanya, melainkan melihat dari kejauhan bagaimana melihat diriku sendiri kala itu. Tapi, aku tahu kalau memutar balik waktu hanya bisa dalam imajinasi saja, tidak ada aksi yang bisa merealisasikan itu semua. Kalaupun ada, manusia tidak akan pernah bisa maju bukan?. Ketika dunia memiliki kapsul waktu untuk tujuan apapun itu, aku rasa Tuhan tidak akan membiarkannya. Karena, Tuhan tahu apa yang terbaik bagi makhluknya dan juga tahu bagaimana kita sebagai manusia harus menjalani apa yang ada di depan mata. Menjadikan yang lalu sebagai pelajaran, dan menjadikan masa depan sebagai arang untuk memacu semangat di hari sekarang.  Tetapi, kalau boleh aku berdoa, ingin rasanya melihat diri ini beberapa tahun yang lalu. Agar aku bisa...

Lelah

              Diri ini hanya butuh untuk didengarkan, diri ini tidak butuh sebauh sumpah serapah yang keluar dari mulut orang lain. Diri ini juga tidak bisa menerima sebuah kalimat penghakiman, karena masalah dari dalam diri ini terlalu sepele bagimu. Mudah bagimu untuk berkata seperti itu, tapi sulit bagi diri ini untuk tidak menelannya mentah-mentah dan menghinggapi ruang paling dalam di hatinya. Mengusik kembali api yang ada di hidupnya. Bukannya lebih mudah untuk memberi diri ini waktu, dan dirimu hanya cukup menutup mulut.               Kalau suatu hari nanti diri ini yang sesungguhnya benar-benar menghilang, dirimu yang patut disalahkan. Karena dengan dirimu membuka mulut, semua api dalam diri ini semakin besar hingga jiwa pun tak mampu memadamkannya lagi. Diri ini bisa saja untuk berterus terang, tetapi terlalu melelahkan untuk melakukan itu semua dan melelahkan juga menerima kalimat itu bulat-bu...